Seni Berbicara,,bisnis=kedokteran??
Beberapa hari yang lalu saya iseng2 mengerjakan tes personality di internet. Ternyata hasinya verbal/linguistik paling rendah diantara inteligensi2 yang lain…hasil tes seperti itu memang jelas nggak valid, apalagi waktu ngerjakan juga kadang nggak tahu arti vocabny sih (staun di FK mematikan kemampuan berhitung dan berbahasa asing…hhh)…Tapi kalo dipikir2 bener juga sih…ya bgini ini, saya nggak terlalu pinter ngomong dan nulis… terus skarang mulai pengen berubah sedikit demi sedikit, menumbuhkan minat baca biar tambah pengetahuan dan menambah bahan pembicaraan..trus nyoba2 membuat blog dan nulis kayak gini…
Buku pertama yang saya temukan untuk dibaca judulnya Seni Berbicara (Larry King). Buku ini punya si “eyang”, yang sudah lama banget saya pinjam, saya bawa ksana kmari2 tapi blum dibaca… Saya baca bab tentang pembicaraan bisnis. Saya lumayan tertarik dengan hal- hal yang berbau enterpreneurship. Biar gak lupa bgitu aja alias lewat kepala tapi tidak bisa menimbulkan potensial aksi dan menjadi long term memory (ahh sudahlah,saya nggak pinter masalah saraf2 gini, maklum nilai blok 1.5 ga gitu bagus…), saya tulis aja singkatnya..Ternyata ada beberapa hal penting dalam komunikasi bisnis yang serupa dengan kompetensi dokter.
Prinsip pertama dalam pembicaraan bisnis itu langsung, terbuka, dan jadi pendengar yang baik…Prinsip ini juga dokter banget kan?!? Terbuka kepada pasien dan slalu jadi pendengar yang baek… Active listening…
Yang kedua, jika kita bicara dalam lingkungan profesi yang sama, kita bisa mengasumsikan bahwa orang yang kita Ajak bicara ngerti istilah-istilah kita, jadi kita bisa pake bahasa-bahasa teknis..Tapi kalau kita bicara dengan orang di luar profesi/bidang kita, ya kita harus memakai bahasa awam yang dimengerti…Nah prinsip ini juga dokter banget, nggak mungkin kan kita bicara ke pasien pakai istilah – istilah medis, masa’ mau bilang ‘jantung’ ke pasien pakai istilah ’cor/cardia’, mau bilang ‘hati’ aja pake ‘hepar’ dll…hehehe…sebisa mungkin kita pakai bahasa yang sama dengan pasien, kalo sama simbah-simbah ya pakai bahasa yang sopan misal Jawa krama (Ampun dah, saya juga nggak pinter basa krama)…Nah, yang trakhir itu, Time is money…Waktu adalah uang..Jadi jangan sia-siakan waktu orang yang kita ajak bicara, jangan ngomongg terus nggak henti2 soalnya ini bisa membuat partner bisnis kita jadi gelisah. Kayaknya “waktu adalah uang” nggak berlaku di dunia medis ya??kecuali buat para dokter yang “mata duitan” (naudzubillahimindzalik… moga2 besok kita nggak kayak gitu ya.. inget “altruisme,duty,excellence,dll”…).. Kalo di kedokteran berlaku juga sih, tapi diganti “waktu adalah nyawa”… huaaa,ngeri amat ya… terlambat 1 detik aja, nyawa orang bisa melayang…pasien yang udah kesakitan mah jangan diajak ngobrol mlulu…jangan dianamnesis terus…hehehe…

ckckck..
ak paling respek ma anak yg rajin ,,salut deh
yg penting positif thinking aj,smw dah ad yg ngatur..*eh nanti klo udah sm2 jd dokter,kn g byk yg tau klo ak adik angkatan,iy g..?